<< / >>

<< >>

Jika kita memahami apa yang ada dalam perut bumi, kejadian seperti gempa dan gunung meletus itu memang harus terjadi. Lho? Di dalam perut bumi ini tersimpan sebuah kekuatan yang maha dahsyat. Kekuatan tersebut ditimbulkan oleh cairan besi panas yang meletup-letup setiap waktu. Letupan tersebut kadang terasa sampai ke permukaan sehingga menyebabkan lempeng bumi bergetar, bergeser, bahkan terbelah. Namun, ketika letupan itu menelan ribuan korban, rasanya pantas kita bertanya. Murkakah alam ini? Sudah tidak bersahabatkah alam dengan manusia? Salah siapakah ini? Apakah karena alam memang sudah rusak, atau karena manusia terlalu bebal sehingga selalu merusak alam? Dapatkan kita menduga datangnya bencana-bencana tersebut? Langkah-langkah apakah yang paling tepat untuk menekan korban bencana? Berangkat dari sederetan pertanyaan tersebut, penulis mencoba membeberkan selayang pengalaman tentang gempa bumi dan gunung meletus beserta gejala, akibat, serta langkah-langkah paling aman untuk menghindarinya. Penulis mengalami sendiri bagaimana situasi dan akibat yang timbul ketika gempa bumi melanda Yogyakarta dan Klaten tepat pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 sekitar pukul 05.55 WIB dengan kekuatan 5,9 Skala Richter selama hampir 59 detik. Situasi menyedihkan dan memilukan. Para korban menahan kesakitan tertimpa reruntuhan, dan mayat bergelimpangan di bawah reruntuhan. Situasi bertambah runyam ketika muncul isu tsunami. Masyarakat lari tunggang langgang ke bukit untuk menyelamatkan diri. Ditambah Gunung Merapi di sebelah utara Yogjakarta dan Klaten pun meradang, serta memuntahkan lava pijar dan awan panas ”wedhus gembel”. Melalui buku Bumi Berguncang Gunung Meradang ini penulis ingin berbagi bagaimana menyikapi dan melakukan penyelamatan, baik sebelum, saat, dan setelah terjadi bencana. Sikap tenang, tabah, serta bertindak cepat adalah tindakan paling efektif.