<< / >>

<< >>

Pertanyaan semesta belum sempat ia jawab. 19 September menjadi hari nyanyian panjang umur dan lagu potong kue bagi bocah laki-laki itu. Perjalanan beranjak dewasa bukan hal mudah baginya, ada rangkaian yang dibuat patah dan jatuh untuk tersadar dan bahagia. Puisi picisan yang sempat ia ikat dengan karsa menjadi penyemangat. Jiwa yang bersemayam kata dibuat jadi lentera yang menerawang di jalan gelap.⁣ ⁣ 19 September kelima belas kalinya akan menjemput. Bocah itu pasti akan kaku sambil membawa antalogi bimbang dan pilu, di atas kereta kencana. Lalu sang padika lara akan memperkenalkannya pada kesedihan. Sungguh bocah malang yang kerajungan air mata.⁣ ⁣ Bimsalabim! Bukan pesulap kelinci di atas panggung sirkus. Semesta tak bercanda. Kuamini setiap perjalanan si bocah dengan doa bahagia selalu. Kita rayakan 19 September dengan memakai topi kerucut khas pesta. “Selamat ulang tahun,” isi pesan semesta kepada si bocah.⁣ ⁣ Tapi kemana kereta kencana itu akan melaju? Aku tak tahu.⁣