<< / >>

<< >>

Puisi, bagi Ristia Herdiana, agaknya merupakan nafas hidupnya. Ia tak bisa dilepaskan dari puisi. Selain produktif menulis puisi, Ristia seringkali tampil membacakan puisi karyanya. Antologi puisi yang berjudul ‘Wajah Rembulan’ ini bukan antologi pertama, tetapi merupakan antologi puisi tunggal miliknya yang keempat. Dalam menulis puisi, Ristia mengambil beragam tema, dia bisa berkisah mengenai perempuan, misalnya melalui puisinya berjudul ‘Emak’ atau mendefinisikan perempuan dengan satu keindahan yang dibayangkan, seperti ‘Wajah Rembulan’, atau berkisah mengenai rutinitas yang dia jalani, misalnya pada puisi berjudul ‘Pagi Yang (Selalu) Sama’. Seolah, melalui puisi Ristia tidak mau melewatkan momentum yang dirasakan, atau dilihatnya, dan momentum itu ada puitika di sana sehingga ia merasa perlu menuliskannya menjadi sebuah puisi.