<< / >>

<< >>

Seperti pernah ditulis Eduardo Galeano, sastrawan terkemuka Amerika Latin itu, para pencerita adalah mereka yang senantiasa mencari jejak kenangan, cinta, dan luka yang tak kasatmata, tetapi sesungguhnya tak pernah sirna dan terus tergambar dalam jejak sejarah, peradaban, dan kehidupan. Cerita-cerita Anton Kurnia dalam buku ini mendedahkan kenangan dan kesaksian yang dibalut dengan permainan hiperteks dan intertekstualitas, serta alusi pada beragam pernik dalam khazanah kebudayaan dunia: musik, film, sepak bola. Dengan jernih dan efisien, tetapi terkadang mengejutkan, Anton mengajak pembaca mengembara menembus labirin ingatan dan pengalaman tokoh-tokohnya dalam kisah-kisah yang kerap meramu realisme dengan imaji-imaji magis. “Cerita-cerita yang ditulis Anton Kurnia dalam Seperti Semut Hitam yang Berjalan di Atas Batu Hitam di Dalam Gelap Malam ini seperti musik klasik. Strukturnya jelas dan banyak perniknya. Seperti solo piano Chopin atau Erik Satie. Kadang berakhir dengan penekanan tertentu, kadang juga tidak, karena sensasi alur bukanlah masalahnya, melainkan pengungkapan kenangan.”—Seno Gumira Ajidarma, sastrawan dan Rektor Institut Kesenian Jakarta “Anton Kurnia adalah penulis cerita yang efisien ... Membaca buku ini seperti menarik kita dari hiruk-pikuk ‘disinformasi’ dan kelisanan ala media sosial.”—Nirwan Dewanto, sastrawan, editor rubrik sastra Koran Tempo 2002–2016 (less)