<< / >>

<< >>

Saya tak tahu kapan puisi menggapai jiwaku, yang saya tahu hanyalah roman siti Nurbaya dan sengsara membawa nikmat di tayangkan berseri televisi kala itu TVRI. Sampai hari ini, rindu ingin kembali menonton, menariknya bahasa yang dipergunakan sangatlah baku berdialek Padang tapi penulis kelahiran Makassar yang dulunya ujung pandang mengerti dialog-dialog tersebut, disamping itu pernah mengikuti dua kali perlombaan baca puisi 17 Agustusan di lingkungan RW tapi tak pernah dapat juara, kasihan ya?. Berlanjut, SMP sudah tahu melihat perempuan namanya Kartini, jadinya buku agenda-agenda tua milik bapak menjadi diary keseharian tempat menuangkan kata menjadi kalimat yang jika terbaca sangat amburadul cuma saya tahu maksudnya itupun menjadi sangat rahasia, hingga hari ini.