<< / >>

<< >>

Seribu Sedu Laksana pengilon kaca yang siap pecah; adalah hati kita. Sebagaimana luka mengenal wajah, dengan butir-butir air mata. Sepi menjelma pada gigir pagi, ilalang jatuh di pangkuan hujan. Ketika bermilyar detik terlewati, hanya tersisa bayang pada lini penghabisan. Demi cinta yang sedang bermahkota, begitu cepat api cemburu merayu sedu. Biarkan rasa tetap ku jaga, wa-lau liku terjal merangkaki waktu.