<< / >>

<< >>

Kekayaan dan keragaman Indonesia yang melahirkan keunikan, pluralitas dan perbedaan merupakan satu kenyataan yang tak terbantahkan lagi. Secara geogra?s saja, Indonesia telah menunjukkan keunikannya, seperti yang kita hafal sejak sekolah di tingkat dasar. Bahwa Indonesia berada di antara dua benua Asia dan Australia. Serta di antara dua samudera Pasi?k dan Hindia. Sebagai ilustrasi, Indonesia terdiri dari 13.466 pulau bahkan sampai 17.000 pulau, memiliki lebih dari 400 suku bangsa dan lebih dari 600 bahasa serta dialek daerah. Dari aspek geogra?s saja, dapat dijadikan dasar bahwa penyelenggaraan pemerintahan terutama di tingkat lokal tidak dapat diseragamkan atau harus asimetri. Belum lagi dari aspek lain seperti ekonomi, politik, sejarah dan budaya yang karakteristik setiap daerah tentu berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, desentralisasi asimetris merupakan jawaban sekaligus pilihan yang tepat untuk mengelola kekayaan dan ragam perbedaan sebagai sebuah anugerah tersebut. Meskipun desentralisasi asimetris tersebut bukan merupakan pilihan yang mudah bagi Indonesia bahkan seringkali menjadi dilema ketika dihadapkan dengan pluralitas dan heterogenitas bangsa. Buku ini selain mengurai pentingnya penerapan desentralisasi asimetris di Indonesia, sekaligus kritik atas pemahaman pemerintah pusat selama ini dalam menerapkan hal tersebut. Buku ini juga mengurai hal-hal yang dapat membuat suatu daerah mendapat status asimetri yang tentu disesuaikan dengan kondisi dan potensi masing-masing daerah. Bahwa pemberian status desentralisasi yang asimetri tidak selalu berdasar pada pertimbangan-pertimbangan politis-pragmatis. Tetapi, memang didasarkan pada pertimbangan riil dan obyektif atas suatu daerah.