<< / >>

<< >>

“Panggil aku Laila!” “Panggil dia Nur!” Mbah Bin tetap tidak mau mengalah. “Nur itu artinya cahaya. Kalau Laila artinya malam. Kegelapan.” *** Nur Laila tidak tahan lagi. Ia baru saja kehilangan ayah ketika diminta untuk ke rumah keluarga ibunya di sebuah desa yang untuk mendapatkan sinyal saja susahnya minta ampun. Tidak ada keriuhan kota seperti di Surabaya, hanya ada suara anak-anak mengaji di sore hari. Belum lagi sikap neneknya, Mbah Bin, yang tampaknya sama sekali tidak sayang kepadanya. Ketika berkemas hendak hidup sendiri di Surabaya, Farid, sepupunya, terbata membaca sebuah buku. Diary Nihayah. Artinya, itu buku diary ibunya. Laila sangat terharu. Ia bisa dikatakan tidak mengenal ibunya yang meninggal setelah melahirkannya itu. Tapi, buku itu ditulis dalam huruf yang tidak Laila mengerti. Itu seperti huruf Arab yang dipelajarinya saat mengaji.