<< / >>

<< >>

Cerpen “Pembangkangan di Meja No. 8” bercerita tentang seorang suami yang takut dan selalu menurut dengan istrinya yang berikhtiar melawan sang istri. Pembangkangannya dilakoni dengan cara yang sepele yakni pulang malam dan, belakangan, pulang subuh. Menjelang akhir cerita, pembangkangannya menunjukkan hasil. Ia berhasil meminta istrinya menghapus unggahan di Facebook yang mengganggu kerukunan dengan teman dan kerabatnya. Apabila saya diminta untuk menunjuk di mana kekuatan cerpen ini, ia terletak pada kemenyehariannya. Kedekatan antara latar, tokoh, kemelut dengan situasi kehidupan sebagian besar pembaca berpotensi menjadikan Roni Azhar, sang tokoh utama, sosok yang melebur dengan mereka. Belum lagi, perjuangan yang bermakna namun juga remeh merupakan premis cerita yang selalu menggelikan dan memikat. Dengan cara yang tidak terlalu absurd tentunya, Jamil berusaha memberikan Anda pengalaman-pengalaman yang belum disusutkan. Cara untuk menikmatinya bukanlah dengan menuntutnya bergulir mengikuti ekspektasi naratif tertentu, melainkan membiarkan diri Anda tergiring di dalamnya, turut tercengang dengan apa yang mencengangkan Jamil di dalam cerpen-cerpennya, turut bersuka cita atau terprovokasi kapan pun ia mengetengahkan peristiwa sentimental melaluinya. Geger Riyanto