<< / >>

<< >>

Deskripsi:

"Alyn, menikahlah denganku!!!" Aku tercengang, kakiku seperti diaba-aba untuk berhenti. Aku meliriknya, pandangan matanya lurus ke depan. Beliau sama sekali tidak memandang atau melihatku. Ku palingkan wajah darinya. “Kok malah guyon”  Batinku. Mencoba meredam beberapa rasa kesal di hatiku. Harusnya dia membahagiakan istrinya bukan malah mencari madunya. 'Jjangan bercanda ustadz." akhirnya keluar juga kalimat itu dari bibirku. "Memangnya pernah, aku memainkan pernikahan." Katanya. "Mbak jicha itu masih hidup. Dia sekarang sekarat. Jangan macam macam ustadz.." Kataku sambil melenggang meninggalkanya. Sopan atau tidak aku tak peduli. "Alyn!!!!" Beliau menyentakku. Aku terhenti lagi. "Aku menikahi Jicha tanpa rasa cinta dan kuberikan nafkah lahir batin. Aku tahu bagaimana caranya menjadi seorang imam. Jadi, Aku akan tetap menunaikan kewajibanku dan kamu mendapatkan hakmu, meskipun kita memulai pernikahan ini tanpa cinta." Aku mengerutkan dahi. "Ini pemaksaan" Batinku. Sejurus dengan itu, pintu ruangan Mbak Jicha terbuka. "Lyn, reneo sek [1] nduk." itu yai musthofa. "Ora ono ndok [2]. Tidak ada orang tua yang tega melihat anaknya di madu dalam keadaan seperti ini. Tapi, aku bisa apa ndok. Tolong ndok, saben wayah jicha mesti tanya. Kapan mas ustadz nikahi Alyn, nanti kalau aku mati siapa yang ngasuh anakku?" Ya Allah, apalagi ini. Seorang kyai seperti beliau, memohon kepadaku untuk menjadi madu untuk anaknya. Haruskah aku berkata "Ngapunten kyai alyn ngak bisa?" Tidak... itu terlalu jahat. Tapi, kalau aku menerimanya, apa itu juga hal baik? [1] Kemarilah, sebentar [2] Tidak ada, nak