<< / >>

<< >>

Deskripsi:

Aku sudah tidak tahu lagi harus bagaimana menjalankan hidup ini. jika malu yang menjadi dalil untuk pergi. Aku katakan pula pada kau kekasihku, aku lebih dulu malu untuk menghadapkan diri pada Tuhan, atas kemurkaan ku padanya. Semuanya sudah sia-sia, kau kekasihku yang selama ini aku doakan di setiap tobatku, berbahagialah dengannya. Ceritakan kegilaanku pada laki-laki itu, aku tak kuasa jika kau menangisiku, aku tak kuasa pula membiarkan kesedihan bersarang pada hatimu atas nasibku ini. Azita kekasihku jangan biarkan kau terluka oleh siapapun, buatkan aku tenang dengan berita bahagiamu dengan dia. Tak dapat aku sembunyikan luka yang kau buat ini, aku menangis tersedu-sedu atas keputusan dan berita bahwa kau sudah mendapatkan yang lebih baik dariku. Lalu Adikku Deri, maafkan aku sebagai saudara kembarmu yang cengeng, tugasmu semakin berat, aku akan pergi dari dunia ini, ku titipkan Ayah dan Ibu padamu. Jadikan kepergianku ini sebuah pelajaran untukmu. Aku sangat ingat saat kita masih kecil dulu, bermain sepak bola di pinggiran sungai rupit, memainkan layang-layang buatan ayah, aku kangen hal itu, kamu pasti ingat saat aku sakit dulu, kau selalu ada disampingku. Sekarang aku sedang merasakan sakitnya bercinta, tapi kau tak berada disampingku. Sakit lebih sakit dari pisau yang menyayat tangan. Kuatkan lah imanmu, ini semua ujian. Aku akan damai dengan jalan yang aku pilih. Titipkan maluku pada keluarga terpandang, keluarganya Azita kekasihku. Ayah, ibu, maafkan sikembar. Sungguh malang nasib anakmu ini, ditimpa cobaan berkali-kali. Bunga rampai yang kalian agung-agungkan untukku sandingkan kelak sudah hilang. Kini kalian harus mengikhlaskan ia yang lepas dari pelukanku, dan kalian pula harus mengikhlaskan kematianku. Maafkan aku Ayah, Ibu, surat ini pertanda sekaligus sujud permintaan maafku pada kalian.