<< / >>

<< >>

Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis remaja yang mempunyai rasa egoisme yang tinggi dimana gadis tersebut terpaksa mengikuti alur dimana semua apa yang ia inginkan itu kadang selalu bertolak belakang, dia selalunya enggan menyampaikan keinginannya demi mengikuti keinginan orang lain entah sampai kapan ia akan terus seperti ini. Satu hal yang ia syukuri. ia dipertemukan dengan orang yang memang menerima ia apa adanya sekalipun awalnya ia menepis rasa bahwa ia tidak menyukainya tapi tetap saja pikirannya tidak sejalan dan itu dibuktikan dengan ia yang menerima hadirnya orang tersebut dalam kesehariannya. Akan tetapi sangat benar perkataan pepatah zaman dulu dimana ada pertemuan disitu juga ada perpisahan dan siapa sangka perpisahan itu membuka jalan untuk keduanya saling memperbaiki diri masing-masing. 7 tahun berpisah tanpa berkomunikasi sama sekali dan kembali Allah pertemukan keduanya dalam keadaan yang sangat tidak disangka. Ini bukan kisah cinta pertama atau semacamnya, tapi lebih kepengajaran bahwa menyampaikan aspirasi agar dapat dipertimbangkan itu penting ketimbang diam saja menerima semua dengan lapang dada. Lantas Seperti apa keadaan keduanya dalam pertemuan itu? Bagaimana reaksi orang tua yang mengetahui anaknya sudah sangat mudah memiliki perasaan kepada lawan jenisnya? Lalu Seberapa kuat keduanya menjalani perpisahan itu sampai menunggu waktu bagi mereka untuk bersatu?