<< / >>

<< >>

Deskripsi:

Negeri Priangan tengah mempersiapkan pemindahan Ibukota Hindia dari Batavia ke Bandung ketika dunia mengalami masa sulit tatkala abad 20 memasuki dasawarsa 30-an. Ketika pialang-pialang saham pada bursa Wall Street di New York mulai berspekulasi, indeks kumulatif di lantai bursa Amerika akhirnya terjun bebas. The Great Depression. Zaman Malaise terpanjang dan terkelam pada masanya. Sebuah kegagalan ekonomi yang disebabkan terjadinya perang dunia pertama. Eropa luluh-lantah. Hancur oleh karena pertempuran yang terjadi. Dan juga hancur oleh hutang demi perbaikan infrastruktur. Daya belinya sebagai konsumen amat memprihatinkan. Eropa kala itu sungguh menyedihkan. Termasuk di dalamnya Kerajaan Nederland sendiri. Negara kecil dengan ketinggian air melebihi dataran yang rendah itu nyatanya amat menggantungkan periuk-jelaganya pada pangsa pasar Eropa. Tentunya melalui komoditas pertanian dan perkebunan yang mereka kuasai di Hindia—Kepulauan Nusantara (kini Indonesia) yang kala itu berada dalam cengkeraman pemerintah kolonial dari negeri nun jauh di ujung lautan. Neraca keuangan negara belum lagi stabil. Pemerintah Kolonial masih maju-mundur mewujudkan rencananya memindahkan ibukota Hindia dari Batavia ke Bandung, kota yang indah dan terletak di dataran tinggi bertemperatur rendah. Serupa dengan negeri-negeri tempat destinasi wisata macam Perancis dan Swiss di Eropa Barat. Pembebasan lahan telah dilakukan. Sejumlah dana dengan nominal fantastis telah digelontorkan. Semua untuk mempersiapkan Bandung sebagai ibukota pengganti. Waktu terus berjalan, pembangunan terus dikebut. Tapi, cita-cita tak kunjung terealisasi. Pembangunan pada masa sulit itu kemudian memunculkan sekelumit kisah di dalamnya: Bandung dalam kurun waktu 1920-1930an. Parijs van Java mempersolek dan menahbiskan diri menjadi satu di antara sedikit kota yang pantas disimpan dalam hati. Itu terjadi saat era peralihan pasca perang dunia pertama dan sebelum terjadinya perang dunia ke dua yang telah menanti di depan mata. Novel ini menggambarkan dan melukiskan bagaimana hidup di dalam negeri sebagai bangsa terjajah. Sedang penjajahnya sendiri pun hidup di dalam kungkungan depresi ekonomi dunia. Novel ini merekam segala tindak-tanduk dan tingkah-polah manusia di dalam negeri jajahan, khususnya Bandung: Si Belanda totok berusaha ingin terus melanggengkan kekuasaan. Si peranakan berada di tengah-tengah dan mencoba memilih pihak mana yang ia akan bela. Sedang, si pribumi—meski tak seluruhnya—berjuang membebaskan diri dari belenggu pemerintah kolonial dengan berbagai cara.